Kelas XI

Materi ulangan Bab 9 ( REVOLUSI AMERIKA,PERANCIS DAN RUSIA ) dan 10 ( REVOLUSI INDUSTRI )
Posted by jamilahdoang in Uncategorized Mei 5, 2014

1.sebutdan jelaskan sebab umum dan khusus terjadinya Revolusi Perancis !
2.Sebut dan jelaskan sebab umum dan khusus terjadinya revolusi Amerika !
3.kapan Amerika dan Perancis Merdeka ?
4.apa semboyan dari Revolusi Perancis
5.sebut dan jelaskan yangmenyebabkan revolusi Rusia ?
6.sebut dan jelaskan yangmenyebabkan REvolusi Industri ?
7.jelaskan dampak positifdan negatif dari Revolusi Industri !
9.Apa isi Declaration of Independent ?
10.Apa pengertian kolonialisme , imperialisme,ultranasionalisme,naziisme dan Fasisme !

KERAJAAN SRIWIJAYA
1.Dimana letak kerajaan Sriwijaya?

2.Sebutkan sumber – sumber yang mendukung keberadaan Kerajaan Sriwijaya?

3  Sebutkan faktor-faktor yang mendorong Sriwijaya menjadi Krajaan besar?

4.Mengapa Sriwijaya disebut sebagai negra nasional pertama di Indonesia ?

5.Kerajaan Sriwijaya mencapai puncak kejyaan pada masa Pemerintahan BalaPutraDewa,yang pernah mengadakan hubungan persahatan dengan Dewa  Pala dewa  yang dapat dibuktikan dengan adanya Prasasti nalanda!sebutkan isinya!

6.Mengapa Selat Malaka dikatakan sebagai urat nadi bagi perdagangan internasional?

7Jelaskan bahwa Sriwijaya maju  dan Ikehidupan keagamaan?

8.Siapakah,Dharmakirti,Atica ?

ke KERAJAAN TARUMA NEGARA” href=”http://jamilahdoang.wordpress.com/2012/08/31/kerajaan-taruma-negara/” rel=”bookmark”>KERAJAAN TARUMA NEGARA

1.Dimana letak keraan Taruma Negara?

2.Tulislah berita yang menyebutkan adanya Kerajaan Taruma Negara?

3..sebulkan prasast yang mendukung keberadaan Taruma Negara?

4.Bahasa dan huruf apakah yang dipakai dalam prasasti-prasasti yang mendukung keberadaan Kerajaan Taruma Negara?

5.Apa mata pencaharian masyarakat Taruma Negara?

A.KERAJAAN KUTAI

1.DImana letak kerajaan kutai?

2 Sebutkan sumber utama informasi  tentang Kerajaan Kutai.

3.Tulislah Raja _raja yang pernah berkuasa pada Kerajaan Kutai

4.Apa yang kamu ketahui tentang wapra keswara?

5 Sebutkan raja-raja kutai,dari.

JAWAB:

  1. Kerajaan kutai adalah kerajaan tertua di Indonesia. Kerajaan ini terletak ditepi sungai Mahakam di Muarakaman, Kalimantan Timur, dekat kota Tenggarong.
  2. Prasasti Kerajaan Kutai

    Informasi yang ada diperoleh dari Yupa / prasasti dalam upacara pengorbanan yang berasal dari abad ke-4. Ada tujuh buah yupa yang menjadi sumber utama bagi para ahli dalam menginterpretasikan sejarah Kerajaan Kutai. Yupa adalah tugu batu yang berfungsi sebagai tiang untuk menambat hewan yang akan dikorbankan. Dari salah satu yupa tersebut diketahui bahwa raja yang memerintah kerajaan Kutai saat itu adalah Mulawarman. Namanya dicatat dalam yupa karena kedermawanannya menyedekahkan 20.000 ekor sapi kepada kaum brahmana.

    Mulawarman

    Mulawarman adalah anak Aswawarman dan cucu Kundungga. Nama Mulawarman dan Aswawarman sangat kental dengan pengaruh bahasa Sanskerta bila dilihat dari cara penulisannya. Kundungga adalah pembesar dari Kerajaan Campa (Kamboja) yang datang ke Indonesia. Kundungga sendiri diduga belum menganut agama Budha.

    Aswawarman

    Aswawarman adalah Anak Raja Kudungga.Ia juga diketahui sebagai pendiri dinasti Kerajaan Kutai sehingga diberi gelar Wangsakerta, yang artinya pembentuk keluarga. Aswawarman memiliki 3 orang putera, dan salah satunya adalah Mulawarman. Putra Aswawarman adalah Mulawarman. Dari yupa diketahui bahwa pada masa pemerintahan Mulawarman, Kerajaan Kutai mengalami masa keemasan. Wilayah kekuasaannya meliputi hampir seluruh wilayah Kalimantan Timur. Rakyat Kutai hidup sejahtera dan makmur. Kerajaan Kutai seakan-akan tak tampak lagi oleh dunia luar karena kurangnya komunikasi dengan pihak asing, hingga sangat sedikit yang mendengar namanya.

    Berakhir

    Kerajaan Kutai berakhir saat Raja Kutai yang bernama Maharaja Dharma Setia tewas dalam peperangan di tangan Raja Kutai Kartanegara ke-13, Aji Pangeran Anum Panji Mendapa. Perlu diingat bahwa Kutai ini (Kutai Martadipura) berbeda dengan Kerajaan Kutai Kartanegara yang ibukotanya pertama kali berada di Kutai Lama (Tanjung Kute). Kutai Kartanegara inilah, di tahun 1365, yang disebutkan dalam sastra Jawa Negarakertagama. Kutai Kartanegara selanjutnya menjadi kerajaan Islam yang disebut Kesultanan Kutai Kartanegara.

    1. Nama-nama raja yang pernah berkuasa di kerajaan kutai.
    2. 4.       Waprakeswara iku enggon sing suci kanggo upacara pamujaan dewa Syiwa. Ing tlatah Jawa tembung Waprakeswara iki padha maknane karo Baprakewara
    1. Maharaja Kundungga, gelar anumerta Dewawarman pendiri
    2. Maharaja Aswawarman (anak Kundungga)
    3. Maharaja Mulawarman
    4. Maharaja Marawijaya Warman
    5. Maharaja Gajayana Warman
    6. Maharaja Tungga Warman
    7. Maharaja Jayanaga Warman
    8. Maharaja Nalasinga Warman
    9. Maharaja Nala Parana Tungga
    10. Maharaja Gadingga Warman Dewa
    11. Maharaja Indra Warman Dewa
    12. Maharaja Sangga Warman Dewa
    13. Maharaja Candrawarman
    14. Maharaja Sri Langka Dewa
    15. Maharaja Guna Parana Dewa
    16. Maharaja Wijaya Warman
    17. Maharaja Sri Aji Dewa
    18. Maharaja Mulia Putera
    19. Maharaja Nala Pandita
    20. Maharaja Indra Paruta Dewa
    21. Maharaja Dharma Setia
    1. 5.    Nama-nama raja kutai
      1. Maharaja Kundungga, gelar anumerta Dewawarman pendiri
      2. Maharaja Aswawarman (anak Kundungga)
      3. Maharaja Mulawarman
      4. Maharaja Marawijaya Warman
      5. Maharaja Gajayana Warman
      6. Maharaja Tungga Warman
      7. Maharaja Jayanaga Warman
      8. Maharaja Nalasinga Warman
      9. Maharaja Nala Parana Tungga

    10. Maharaja Gadingga Warman Dewa

    11. Maharaja Indra Warman Dewa

    12. Maharaja Sangga Warman Dewa

    13. Maharaja Candrawarman

    14. Maharaja Sri Langka Dewa

    15. Maharaja Guna Parana Dewa

    16. Maharaja Wijaya Warman

    17. Maharaja Sri Aji Dewa

    18. Maharaja Mulia Putera

    19. Maharaja Nala Pandita

    20. Maharaja Indra Paruta Dewa

    21. Maharaja Dharma Setia

     

     

     

     

     

     

     

     

    KERAJAAN TARUMA NEGARA

    1.Dimana letak keraan Taruma Negara?

    2.Tulislah berita yang menyebutkan adanya Kerajaan Taruma Negara?

    3. .sebulkan prasasti yang mendukung keberadaan Taruma Negara?

    4.Bahasa dan huruf apakah yang dipakai dalam prasasti-prasasti yang mendukung keberadaan Kerajaan Taruma Negara?

    5.Apa mata pencaharian masyarakat Taruma Negara?

    6.Apa isi dari Prasasti Tugu?

    Jawaban :

    1. Sebelum mengetahui letak kraton kerajaan Tarumanegara, dari temuan tempat prasasti itu dapat diperkirakan luas kerajaan Tarumanegara. Prasasti Ciaruon atau prasasti Ciareteun, ditemukan di daerah Cimpea, Bogor. Kemudian prasasti kebun kopi yang ditemukan di daerah kampong hilir kecamatan cibung-bulang. Kemudian prasasti kebun jambu, ditemukan di daerah bukit koleangkak 30 km sebelah barat bogor. Kemudian prasasti tugu ditemukan di daerah Tugu, clincing, Jakarta Utara.
    1. Bukti keberadaan Kerajaan Tarumanegara diketahui melalui sumber-sumber yang berasal dari dalam maupun luar negeri. Sumber dari dalam negeri berupa 7 buah prasasti batu yang ditemukan empat di Bogor, satu di Jakarta dan satu di Lebak Banten. Dari prasasti-prasasti ini diketahui bahwa Kerajaan Tarumanegara dibangun oleh Rajadirajaguru Jayasingawarman tahun 358 M dan beliau memerintah sampai yahun 382 M.
    1. a. Prasasti Kebon Kopi, dibuat sekitar 400 M (H Kern 1917), ditemukan di perkebunan kopi milik Jonathan Rig, Ciampea, Bogorb.  Prasasti Tugu, ditemukan di Kampung Batutumbu, Desa Tugu, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, sekarang disimpan di museum di Jakarta. Prasasti tersebut isinya menerangkan penggalian Sungai Candrabaga oleh Rajadirajaguru dan penggalian Sungai Gomati oleh Purnawarman pada tahun ke-22 masa pemerintahannya.Penggalian sungai tersebut merupakan gagasan untuk menghindari bencana alam berupa banjir yang sering terjadi pada masa pemerintahan Purnawarman, dan kekeringan yang terjadi pada musim kemarau.

      c. Prasasti Munjul atau Prasasti Cidanghiang, ditemukan di aliran Sungai Cidanghiang yang mengalir di Desa Lebak, Kecamatan Munjul, Kabupaten Pandeglang, Banten, berisi pujian kepada Raja Purnawarman.
      * Prasasti Ciaruteun, Ciampea, Bogor
      * Prasasti Muara Cianten, Ciampea, Bogor
      * Prasasti Jambu, Nanggung, Bogor
      * Prasasti Pasir Awi, Citeureup, Bogor
      Lahan tempat prasasti itu ditemukan berbentuk bukit rendah berpermukaan datar dan diapit tiga batang sungai: Cisadane, Cianten dan Ciaruteun. Sampai abad ke-19, tempat itu masih dilaporkan dengan nama Pasir Muara. Dahulu termasuk bagian tanah swasta Ciampea. Sekarang termasuk wilayah Kecamatan Cibungbulang.
      Kampung Muara tempat prasasti Ciaruteun dan Telapak Gajah ditemukan, dahulu merupakan sebuah “kota pelabuhan sungai” yang bandarnya terletak di tepi pertemuan Cisadane dengan Cianten. Sampai abad ke-19 jalur sungai itu masih digunakan untuk angkutan hasil perkebunan kopi. Sekarang masih digunakan oleh pedagang bambu untuk mengangkut barang dagangannya ke daerah hilir.
      Prasasti pada zaman ini menggunakan aksara Sunda kuno, yang pada awalnya merupakan perkembangan dari aksara tipe Pallawa Lanjut, yang mengacu pada model aksara Kamboja dengan beberapa cirinya yang masih melekat. Pada zaman ini, aksara tersebut belum mencapai taraf modifikasi bentuk khasnya sebagaimana yang digunakan naskah-naskah (lontar) abad ke-16.

      Prasasti Pasir Muara

      Di Bogor, prasasti ditemukan di Pasir Muara, di tepi sawah, tidak jauh dari prasasti Telapak Gajah peninggalan Purnawarman. Prasasti itu kini tak berada ditempat asalnya. Dalam prasasti itu dituliskan :
      ini sabdakalanda rakryan juru panga-mbat i kawihaji panyca pasagi marsa-n desa barpulihkan haji su-nda
      Terjemahannya menurut Bosch:
      Ini tanda ucapan Rakryan Juru Pengambat dalam tahun (Saka) kawihaji (8) panca (5) pasagi (4), pemerintahan begara dikembalikan kepada raja Sunda.
      Karena angka tahunnya bercorak “sangkala” yang mengikuti ketentuan “angkanam vamato gatih” (angka dibaca dari kanan), maka prasasti tersebut dibuat dalam tahun 458 Saka atau 536 Masehi.

      Prasasti Ciaruteun

      Prasasti Ciaruteun ditemukan pada aliran Sungai Ciaruteun, seratus meter dari pertemuan sungai tersebut dengan Sungai Cisadane; namun pada tahun 1981 diangkat dan diletakkan di dalam cungkup. Prasasti ini peninggalan Purnawarman, beraksara Palawa, berbahasa Sansekerta. Isinya adalah puisi empat baris, yang berbunyi:

      vikkrantasyavanipateh shrimatah purnavarmmanah tarumanagararendrasya vishnoriva padadvayam

    Terjemahannya menurut Vogel:
    Kedua (jejak) telapak kaki yang seperti (telapak kaki) Wisnu ini kepunyaan raja dunia yang gagah berani yang termashur Purnawarman penguasa Tarumanagara.
    Selain itu, ada pula gambar sepasang “pandatala” (jejak kaki), yang menunjukkan tanda kekuasaan &mdash& fungsinya seperti “tanda tangan” pada zaman sekarang. Kehadiran prasasti Purnawarman di kampung itu menunjukkan bahwa daerah itu termasuk kawasan kekuasaannya. Menurut Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara parwa II, sarga 3, halaman 161, di antara bawahan Tarumanagara pada masa pemerintahan Purnawarman terdapat nama “Rajamandala” (raja daerah) Pasir Muhara.

    Prasasti Telapak Gajah

    Prasasti Telapak Gajah bergambar sepasang telapak kaki gajah yang diberi keterangan satu baris berbentuk puisi berbunyi:
    jayavi s halasya tarumendrsaya hastinah airavatabhasya vibhatidam padadavayam
    Terjemahannya:
    Kedua jejak telapak kaki adalah jejak kaki gajah yang cemerlang seperti Airawata kepunyaan penguasa Tarumanagara yang jaya dan berkuasa.
    Menurut mitologi Hindu, Airawata adalah nama gajah tunggangan Batara Indra dewa perang dan penguawa Guntur. Menurut Pustaka Parawatwan i Bhumi Jawadwipa parwa I, sarga 1, gajah perang Purnawarman diberi nama Airawata seperti nama gajah tunggangan Indra. Bahkan diberitakan juga, bendera Kerajaan Tarumanagara berlukiskan rangkaian bunga teratai di atas kepala gajah. Demikian pula mahkota yang dikenakan Purnawarman berukiran sepasang lebah.
    Ukiran bendera dan sepasang lebah itu dengan jelas ditatahkan pada prasasti Ciaruteun yang telah memancing perdebatan mengasyikkan di antara para ahli sejarah mengenai makna dan nilai perlambangannya. Ukiran kepala gajah bermahkota teratai ini oleh para ahli diduga sebagai “huruf ikal” yang masih belum terpecahkan bacaaanya sampai sekarang. Demikian pula tentang ukiran sepasang tanda di depan telapak kaki ada yang menduganya sebagai lambang labah-labah, matahari kembar atau kombinasi surya-candra (matahari dan bulan). Keterangan pustaka dari Cirebon tentang bendera Tarumanagara dan ukiran sepasang “bhramara” (lebah) sebagai cap pada mahkota Purnawarman dalam segala “kemudaan” nilainya sebagai sumber sejarah harus diakui kecocokannya dengan lukisan yang terdapat pada prasasti Ciaruteun.
    Prasasti lain
    Di daerah Bogor, masih ada satu lagi prasasti lainnya yaitu prasasti batu peninggalan Tarumanagara yang terletak di puncak Bukit Koleangkak, Desa Pasir Gintung, Kecamatan Leuwiliang. Pada bukit ini mengalir (sungai) Cikasungka. Prasasti inipun berukiran sepasang telapak kaki dan diberi keterangan berbentuk puisi dua baris:
    shriman data kertajnyo narapatir – asamo yah pura tarumayam nama shri purnnavarmma pracurarupucara fedyavikyatavammo tasyedam – padavimbadavyam arnagarotsadane nitya-dksham bhaktanam yangdripanam – bhavati sukhahakaram shalyabhutam ripunam.
    Terjemahannya menurut Vogel:
    Yang termashur serta setia kepada tugasnya ialah raja yang tiada taranya bernama Sri Purnawarman yang memerintah Taruma serta baju perisainya tidak dapat ditembus oleh panah musuh-musuhnya; kepunyaannyalah kedua jejak telapak kaki ini, yang selalu berhasil menghancurkan benteng musuh, yang selalu menghadiahkan jamuan kehormatan (kepada mereka yang setia kepadanya), tetapi merupakan duri bagi musuh-musuhnya.

    1. Menggunakan huruf pallawa dan Bahasa nya  Sansekerta.
    1. Kerajaan tarumanegara pada masa itu mata pencaariannya adalah bertani dan berdagang.
    1. Prasasti Tugu bertuliskan aksara Pallawa yang disusun dalam bentuk seloka bahasa Sanskerta dengan metrum Anustubh yang teridiri dari lima baris melingkari mengikuti bentuk permukaan batu. Sebagaimana semua prasasti-prasasti dari masa Tarumanagara umumnya, Prasasti Tugu juga tidak mencantumkan pertanggalan. Kronologinya didasarkan kepada analisis gaya dan bentuk aksara (analisis palaeografis). Berdasarkan analisis tersebut diketahui bahwa prasasti ini berasal dari pertengahan abad ke-5 Masehi. Khusus prasasti Tugu dan prasasti Cidanghiyang memiliki kemiripan aksara, sangat mungkin sang pemahat tulisan (citralaikha > citralekha) kedua prasasti ini adalah orang yang sama. Dibandingkan prasasti-prasasti dari masa Tarumanagara lainnya, Prasasti Tugu merupakan prasasti yang terpanjang yang dikeluarkan Sri Maharaja Purnawarman. Prasasti ini dikeluarkan pada masa pemerintahan Purnnawarmman pada tahun ke-22 sehubungan dengan peristiwa peresmian (selesai dibangunnya) saluran sungai Gomati dan Candrabhaga. Prasasti Tugu memiliki keunikan yakni terdapat pahatan hiasan tongkat yag pada ujungnya dilengkapi semacam trisula. Gambar tongkat tersebut dipahatkan tegak memanjang ke bawah seakan berfungsi sebagai batas pemisah antara awal dan akhir kalimat-kalimat pada prasastinya.

     

    A.KERAJAAN KUTAI

    1.DImana letak kerajaan kutai?

    2 Sebutkan sumber utama informasi  tentang Kerajaan Kutai.

    3.Tulislah Raja _raja yang pernah berkuasa pada Kerajaan Kutai

    4.Apa yang kamu ketahui tentang wapra keswara?

    5 Sebutkan raja-raja kutai,dari.

    JAWAB:

    1. Kerajaan kutai adalah kerajaan tertua di Indonesia. Kerajaan ini terletak ditepi sungai Mahakam di Muarakaman, Kalimantan Timur, dekat kota Tenggarong.

     

    1. Yupa

    Prasasti Kerajaan Kutai

    Informasi yang ada diperoleh dari Yupa / prasasti dalam upacara pengorbanan yang berasal dari abad ke-4. Ada tujuh buah yupa yang menjadi sumber utama bagi para ahli dalam menginterpretasikan sejarah Kerajaan Kutai. Yupa adalah tugu batu yang berfungsi sebagai tiang untuk menambat hewan yang akan dikorbankan. Dari salah satu yupa tersebut diketahui bahwa raja yang memerintah kerajaan Kutai saat itu adalah Mulawarman. Namanya dicatat dalam yupa karena kedermawanannya menyedekahkan 20.000 ekor sapi kepada kaum brahmana.

    Mulawarman

    Mulawarman adalah anak Aswawarman dan cucu Kundungga. Nama Mulawarman dan Aswawarman sangat kental dengan pengaruh bahasa Sanskerta bila dilihat dari cara penulisannya. Kundungga adalah pembesar dari Kerajaan Campa (Kamboja) yang datang ke Indonesia. Kundungga sendiri diduga belum menganut agama Budha.

    Aswawarman

    Aswawarman adalah Anak Raja Kudungga.Ia juga diketahui sebagai pendiri dinasti Kerajaan Kutai sehingga diberi gelar Wangsakerta, yang artinya pembentuk keluarga. Aswawarman memiliki 3 orang putera, dan salah satunya adalah Mulawarman. Putra Aswawarman adalah Mulawarman. Dari yupa diketahui bahwa pada masa pemerintahan Mulawarman, Kerajaan Kutai mengalami masa keemasan. Wilayah kekuasaannya meliputi hampir seluruh wilayah Kalimantan Timur. Rakyat Kutai hidup sejahtera dan makmur. Kerajaan Kutai seakan-akan tak tampak lagi oleh dunia luar karena kurangnya komunikasi dengan pihak asing, hingga sangat sedikit yang mendengar namanya.

    Berakhir

    Kerajaan Kutai berakhir saat Raja Kutai yang bernama Maharaja Dharma Setia tewas dalam peperangan di tangan Raja Kutai Kartanegara ke-13, Aji Pangeran Anum Panji Mendapa. Perlu diingat bahwa Kutai ini (Kutai Martadipura) berbeda dengan Kerajaan Kutai Kartanegara yang ibukotanya pertama kali berada di Kutai Lama (Tanjung Kute). Kutai Kartanegara inilah, di tahun 1365, yang disebutkan dalam sastra Jawa Negarakertagama. Kutai Kartanegara selanjutnya menjadi kerajaan Islam yang disebut Kesultanan Kutai Kartanegara.

    1. Nama-nama raja yang pernah berkuasa di kerajaan kutai.
    2. 4.       Waprakeswara iku enggon sing suci kanggo upacara pamujaan dewa Syiwa. Ing tlatah Jawa tembung Waprakeswara iki padha maknane karo Baprakewara
    1. Maharaja Kundungga, gelar anumerta Dewawarman pendiri
    2. Maharaja Aswawarman (anak Kundungga)
    3. Maharaja Mulawarman
    4. Maharaja Marawijaya Warman
    5. Maharaja Gajayana Warman
    6. Maharaja Tungga Warman
    7. Maharaja Jayanaga Warman
    8. Maharaja Nalasinga Warman
    9. Maharaja Nala Parana Tungga
    10. Maharaja Gadingga Warman Dewa
    11. Maharaja Indra Warman Dewa
    12. Maharaja Sangga Warman Dewa
    13. Maharaja Candrawarman
    14. Maharaja Sri Langka Dewa
    15. Maharaja Guna Parana Dewa
    16. Maharaja Wijaya Warman
    17. Maharaja Sri Aji Dewa
    18. Maharaja Mulia Putera
    19. Maharaja Nala Pandita
    20. Maharaja Indra Paruta Dewa
    21. Maharaja Dharma Setia
    1. 5.    Nama-nama raja kutai
      1. Maharaja Kundungga, gelar anumerta Dewawarman pendiri
      2. Maharaja Aswawarman (anak Kundungga)
      3. Maharaja Mulawarman
      4. Maharaja Marawijaya Warman
      5. Maharaja Gajayana Warman
      6. Maharaja Tungga Warman
      7. Maharaja Jayanaga Warman
      8. Maharaja Nalasinga Warman
      9. Maharaja Nala Parana Tungga

    10. Maharaja Gadingga Warman Dewa

    11. Maharaja Indra Warman Dewa

    12. Maharaja Sangga Warman Dewa

    13. Maharaja Candrawarman

    14. Maharaja Sri Langka Dewa

    15. Maharaja Guna Parana Dewa

    16. Maharaja Wijaya Warman

    17. Maharaja Sri Aji Dewa

    18. Maharaja Mulia Putera

    19. Maharaja Nala Pandita

    20. Maharaja Indra Paruta Dewa

    21. Maharaja Dharma Setia

     

     

     

     

     

     

     

     

    KERAJAAN TARUMA NEGARA

    1.Dimana letak keraan Taruma Negara?

    2.Tulislah berita yang menyebutkan adanya Kerajaan Taruma Negara?

    3. .sebulkan prasasti yang mendukung keberadaan Taruma Negara?

    4.Bahasa dan huruf apakah yang dipakai dalam prasasti-prasasti yang mendukung keberadaan Kerajaan Taruma Negara?

    5.Apa mata pencaharian masyarakat Taruma Negara?

    6.Apa isi dari Prasasti Tugu?

    Jawaban :

    1. Sebelum mengetahui letak kraton kerajaan Tarumanegara, dari temuan tempat prasasti itu dapat diperkirakan luas kerajaan Tarumanegara. Prasasti Ciaruon atau prasasti Ciareteun, ditemukan di daerah Cimpea, Bogor. Kemudian prasasti kebun kopi yang ditemukan di daerah kampong hilir kecamatan cibung-bulang. Kemudian prasasti kebun jambu, ditemukan di daerah bukit koleangkak 30 km sebelah barat bogor. Kemudian prasasti tugu ditemukan di daerah Tugu, clincing, Jakarta Utara.
    1. Bukti keberadaan Kerajaan Tarumanegara diketahui melalui sumber-sumber yang berasal dari dalam maupun luar negeri. Sumber dari dalam negeri berupa 7 buah prasasti batu yang ditemukan empat di Bogor, satu di Jakarta dan satu di Lebak Banten. Dari prasasti-prasasti ini diketahui bahwa Kerajaan Tarumanegara dibangun oleh Rajadirajaguru Jayasingawarman tahun 358 M dan beliau memerintah sampai yahun 382 M.
    1. a. Prasasti Kebon Kopi, dibuat sekitar 400 M (H Kern 1917), ditemukan di perkebunan kopi milik Jonathan Rig, Ciampea, Bogorb.  Prasasti Tugu, ditemukan di Kampung Batutumbu, Desa Tugu, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, sekarang disimpan di museum di Jakarta. Prasasti tersebut isinya menerangkan penggalian Sungai Candrabaga oleh Rajadirajaguru dan penggalian Sungai Gomati oleh Purnawarman pada tahun ke-22 masa pemerintahannya.Penggalian sungai tersebut merupakan gagasan untuk menghindari bencana alam berupa banjir yang sering terjadi pada masa pemerintahan Purnawarman, dan kekeringan yang terjadi pada musim kemarau.

      c. Prasasti Munjul atau Prasasti Cidanghiang, ditemukan di aliran Sungai Cidanghiang yang mengalir di Desa Lebak, Kecamatan Munjul, Kabupaten Pandeglang, Banten, berisi pujian kepada Raja Purnawarman.
      * Prasasti Ciaruteun, Ciampea, Bogor
      * Prasasti Muara Cianten, Ciampea, Bogor
      * Prasasti Jambu, Nanggung, Bogor
      * Prasasti Pasir Awi, Citeureup, Bogor
      Lahan tempat prasasti itu ditemukan berbentuk bukit rendah berpermukaan datar dan diapit tiga batang sungai: Cisadane, Cianten dan Ciaruteun. Sampai abad ke-19, tempat itu masih dilaporkan dengan nama Pasir Muara. Dahulu termasuk bagian tanah swasta Ciampea. Sekarang termasuk wilayah Kecamatan Cibungbulang.
      Kampung Muara tempat prasasti Ciaruteun dan Telapak Gajah ditemukan, dahulu merupakan sebuah “kota pelabuhan sungai” yang bandarnya terletak di tepi pertemuan Cisadane dengan Cianten. Sampai abad ke-19 jalur sungai itu masih digunakan untuk angkutan hasil perkebunan kopi. Sekarang masih digunakan oleh pedagang bambu untuk mengangkut barang dagangannya ke daerah hilir.
      Prasasti pada zaman ini menggunakan aksara Sunda kuno, yang pada awalnya merupakan perkembangan dari aksara tipe Pallawa Lanjut, yang mengacu pada model aksara Kamboja dengan beberapa cirinya yang masih melekat. Pada zaman ini, aksara tersebut belum mencapai taraf modifikasi bentuk khasnya sebagaimana yang digunakan naskah-naskah (lontar) abad ke-16.

      Prasasti Pasir Muara

      Di Bogor, prasasti ditemukan di Pasir Muara, di tepi sawah, tidak jauh dari prasasti Telapak Gajah peninggalan Purnawarman. Prasasti itu kini tak berada ditempat asalnya. Dalam prasasti itu dituliskan :
      ini sabdakalanda rakryan juru panga-mbat i kawihaji panyca pasagi marsa-n desa barpulihkan haji su-nda
      Terjemahannya menurut Bosch:
      Ini tanda ucapan Rakryan Juru Pengambat dalam tahun (Saka) kawihaji (8) panca (5) pasagi (4), pemerintahan begara dikembalikan kepada raja Sunda.
      Karena angka tahunnya bercorak “sangkala” yang mengikuti ketentuan “angkanam vamato gatih” (angka dibaca dari kanan), maka prasasti tersebut dibuat dalam tahun 458 Saka atau 536 Masehi.

      Prasasti Ciaruteun

      Prasasti Ciaruteun ditemukan pada aliran Sungai Ciaruteun, seratus meter dari pertemuan sungai tersebut dengan Sungai Cisadane; namun pada tahun 1981 diangkat dan diletakkan di dalam cungkup. Prasasti ini peninggalan Purnawarman, beraksara Palawa, berbahasa Sansekerta. Isinya adalah puisi empat baris, yang berbunyi:

      vikkrantasyavanipateh shrimatah purnavarmmanah tarumanagararendrasya vishnoriva padadvayam

    Terjemahannya menurut Vogel:
    Kedua (jejak) telapak kaki yang seperti (telapak kaki) Wisnu ini kepunyaan raja dunia yang gagah berani yang termashur Purnawarman penguasa Tarumanagara.
    Selain itu, ada pula gambar sepasang “pandatala” (jejak kaki), yang menunjukkan tanda kekuasaan &mdash& fungsinya seperti “tanda tangan” pada zaman sekarang. Kehadiran prasasti Purnawarman di kampung itu menunjukkan bahwa daerah itu termasuk kawasan kekuasaannya. Menurut Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara parwa II, sarga 3, halaman 161, di antara bawahan Tarumanagara pada masa pemerintahan Purnawarman terdapat nama “Rajamandala” (raja daerah) Pasir Muhara.

    Prasasti Telapak Gajah

    Prasasti Telapak Gajah bergambar sepasang telapak kaki gajah yang diberi keterangan satu baris berbentuk puisi berbunyi:
    jayavi s halasya tarumendrsaya hastinah airavatabhasya vibhatidam padadavayam
    Terjemahannya:
    Kedua jejak telapak kaki adalah jejak kaki gajah yang cemerlang seperti Airawata kepunyaan penguasa Tarumanagara yang jaya dan berkuasa.
    Menurut mitologi Hindu, Airawata adalah nama gajah tunggangan Batara Indra dewa perang dan penguawa Guntur. Menurut Pustaka Parawatwan i Bhumi Jawadwipa parwa I, sarga 1, gajah perang Purnawarman diberi nama Airawata seperti nama gajah tunggangan Indra. Bahkan diberitakan juga, bendera Kerajaan Tarumanagara berlukiskan rangkaian bunga teratai di atas kepala gajah. Demikian pula mahkota yang dikenakan Purnawarman berukiran sepasang lebah.
    Ukiran bendera dan sepasang lebah itu dengan jelas ditatahkan pada prasasti Ciaruteun yang telah memancing perdebatan mengasyikkan di antara para ahli sejarah mengenai makna dan nilai perlambangannya. Ukiran kepala gajah bermahkota teratai ini oleh para ahli diduga sebagai “huruf ikal” yang masih belum terpecahkan bacaaanya sampai sekarang. Demikian pula tentang ukiran sepasang tanda di depan telapak kaki ada yang menduganya sebagai lambang labah-labah, matahari kembar atau kombinasi surya-candra (matahari dan bulan). Keterangan pustaka dari Cirebon tentang bendera Tarumanagara dan ukiran sepasang “bhramara” (lebah) sebagai cap pada mahkota Purnawarman dalam segala “kemudaan” nilainya sebagai sumber sejarah harus diakui kecocokannya dengan lukisan yang terdapat pada prasasti Ciaruteun.
    Prasasti lain
    Di daerah Bogor, masih ada satu lagi prasasti lainnya yaitu prasasti batu peninggalan Tarumanagara yang terletak di puncak Bukit Koleangkak, Desa Pasir Gintung, Kecamatan Leuwiliang. Pada bukit ini mengalir (sungai) Cikasungka. Prasasti inipun berukiran sepasang telapak kaki dan diberi keterangan berbentuk puisi dua baris:
    shriman data kertajnyo narapatir – asamo yah pura tarumayam nama shri purnnavarmma pracurarupucara fedyavikyatavammo tasyedam – padavimbadavyam arnagarotsadane nitya-dksham bhaktanam yangdripanam – bhavati sukhahakaram shalyabhutam ripunam.
    Terjemahannya menurut Vogel:
    Yang termashur serta setia kepada tugasnya ialah raja yang tiada taranya bernama Sri Purnawarman yang memerintah Taruma serta baju perisainya tidak dapat ditembus oleh panah musuh-musuhnya; kepunyaannyalah kedua jejak telapak kaki ini, yang selalu berhasil menghancurkan benteng musuh, yang selalu menghadiahkan jamuan kehormatan (kepada mereka yang setia kepadanya), tetapi merupakan duri bagi musuh-musuhnya.

    1. Menggunakan huruf pallawa dan Bahasa nya  Sansekerta.
    1. Kerajaan tarumanegara pada masa itu mata pencaariannya adalah bertani dan berdagang.
    1. Prasasti Tugu bertuliskan aksara Pallawa yang disusun dalam bentuk seloka bahasa Sanskerta dengan metrum Anustubh yang teridiri dari lima baris melingkari mengikuti bentuk permukaan batu. Sebagaimana semua prasasti-prasasti dari masa Tarumanagara umumnya, Prasasti Tugu juga tidak mencantumkan pertanggalan. Kronologinya didasarkan kepada analisis gaya dan bentuk aksara (analisis palaeografis). Berdasarkan analisis tersebut diketahui bahwa prasasti ini berasal dari pertengahan abad ke-5 Masehi. Khusus prasasti Tugu dan prasasti Cidanghiyang memiliki kemiripan aksara, sangat mungkin sang pemahat tulisan (citralaikha > citralekha) kedua prasasti ini adalah orang yang sama. Dibandingkan prasasti-prasasti dari masa Tarumanagara lainnya, Prasasti Tugu merupakan prasasti yang terpanjang yang dikeluarkan Sri Maharaja Purnawarman. Prasasti ini dikeluarkan pada masa pemerintahan Purnnawarmman pada tahun ke-22 sehubungan dengan peristiwa peresmian (selesai dibangunnya) saluran sungai Gomati dan Candrabhaga. Prasasti Tugu memiliki keunikan yakni terdapat pahatan hiasan tongkat yag pada ujungnya dilengkapi semacam trisula. Gambar tongkat tersebut dipahatkan tegak memanjang ke bawah seakan berfungsi sebagai batas pemisah antara awal dan akhir kalimat-kalimat pada prasastinya.

     

    6.Apa isi dari Prasasti Tugu?

    KLAS XI IPS KD.2 MASA KERAJAAN-KERAJAAN HINDHU-BUDHA

    A.KERAJAAN KUTAI

    1.DImana letak KERAJAAN kUTAI?

    2 Sebutkan sumber utama informasi  tentang Kerajaan Kutai.

    3.Tulislah Raja _raja yang pernah berkuasa pada Kerajaan Kutai

    4.Apa yang kamu ketahui tentang wapra keswara?

    5 Sebutkan raja-raja kutai,dari Kalimantan Timur !

    PETA JALUR MASUK DAN BERKEMBANGNYA AGAMA HINDU DAN BUDHA

    A.Melalui jalur Laut

    Para penyebar agama dan budaya Hindu – Budha yang menggunakan jalur laut datang ke Indonesia mengikuti rombongan kapal – kapal dagang yang biasa beraktivitas pada jalur India _ Cina.

    Adapun route yang dilalui  :

    jalur 1India- Myanmar-Thailand-Semenanjung Malaya,kemudian ke nusantara.

    jalur 2 ; semenanjung Malaya-kamboja-vietnam-cina-Korea dan Jepang

    jalur 3 ; India – Indonesia dengan memanfaatkan angi muson barat

    B.Melalui Jalur darat/jalur sutra

    1India-Tibet-Cina-korea- dan Jepang

    2. India utara-Bangladesh-Myanmar-Thailand-semenanjung Malaya-Indonesia

    Proses masuknya agama dan kebudayaan hindu budha ke Indonesia

    Pada permulaan tarikh masehi, di Benua Asia terdapat dua negeri besar yang tingkat peradabannya dianggap sudah tinggi, yaitu India dan Cina. Kedua negeri ini menjalin hubungan ekonomi dan perdagangan yang baik. Arus lalu lintas perdagangan dan pelayaran berlangsung melalui jalan darat dan laut. Salah satu jalur lalu lintas laut yang dilewati India-Cina adalah Selat Malaka. Indonesia yang terletak di jalur posisi silang dua benua dan dua samudera, serta berada di dekat Selat Malaka memiliki keuntungan, yaitu:

    1. Sering dikunjungi bangsa-bangsa asing, seperti India, Cina, Arab, dan Persia,
    2. Kesempatan melakukan hubungan perdagangan internasional terbuka lebar,
    3. Pergaulan dengan bangsa-bangsa lain semakin luas, dan
    4. Pengaruh asing masuk ke Indonesia, seperti Hindu-Budha.

    Keterlibatan bangsa Indonesia dalam kegiatan perdagangan dan pelayaran internasional menyebabkan timbulnya percampuran budaya. India merupakan negara pertama yang memberikan pengaruh kepada Indonesia, yaitu dalam bentuk budaya Hindu. Ada beberapa hipotesis yang dikemukakan para ahli tentang proses masuknya budaya Hindu-Buddha ke Indonesia.

    1. Hipotesis Brahmana

    Hipotesis ini mengungkapkan bahwa kaum brahmana amat berperan dalam upaya penyebaran budaya Hindu di Indonesia. Para brahmana mendapat undangan dari penguasa Indonesia untuk menobatkan raja dan memimpin upacara-upacara keagamaan. Pendukung hipotesis ini adalah Van Leur.

    2. Hipotesis Ksatria

    Pada hipotesis ksatria, peranan penyebaran agama dan budaya Hindu dilakukan oleh kaum ksatria. Menurut hipotesis ini, di masa lampau di India sering terjadi peperangan antargolongan di dalam masyarakat. Para prajurit yang kalah atau jenuh menghadapi perang, lantas meninggalkan India. Rupanya, diantara mereka ada pula yang sampai ke wilayah Indonesia. Mereka inilah yang kemudian berusaha mendirikan koloni-koloni baru sebagai tempat tinggalnya. Di tempat itu pula terjadi proses penyebaran agama dan budaya Hindu. F.D.K. Bosch adalah salah seorang pendukung hipotesis ksatria.

    3. Hipotesis Waisya

    Menurut para pendukung hipotesis waisya, kaum waisya yang berasal dari kelompok pedagang telah berperan dalam menyebarkan budaya Hindu ke Nusantara. Para pedagang banyak berhubungan dengan para penguasa beserta rakyatnya. Jalinan hubungan itu telah membuka peluang bagi terjadinya proses penyebaran budaya Hindu. N.J. Krom adalah salah satu pendukung dari hipotesis waisya.

    4. Hipotesis Sudra

    Von van Faber mengungkapkan bahwa peperangan yang tejadi di India telah menyebabkan golongan sudra menjadi orang buangan. Mereka kemudian meninggalkan India dengan mengikuti kaum waisya. Dengan jumlah yang besar, diduga golongan sudralah yang memberi andil dalam penyebaran budaya Hindu ke Nusantara.

    Selain pendapat di atas, para ahli menduga banyak pemuda di wilayah Indonesia yang belajar agama Hindu dan Buddha ke India. Di perantauan mereka mendirikan organisasi yang disebut Sanggha. Setelah memperoleh ilmu yang banyak, mereka kembali untuk menyebarkannya. Pendapat semacam ini disebut Teori Arus Balik.

    Pada umumnya para ahli cenderung kepada pendapat yang menyatakan bahwa masuknya budaya Hindu ke Indonesia itu dibawa dan disebarluaskan oleh orang-orang Indonesia sendiri. Bukti tertua pengaruh budaya India di Indonesia adalah penemuan arca perunggu Buddha di daerah Sempaga (Sulawesi Selatan). Dilihat dari bentuknya, arca ini mempunyai langgam yang sama dengan arca yang dibuat di Amarawati (India). Para ahli memperkirakan, arca Buddha tersebut merupakan barang dagangan atau barang persembahan untuk bangunan suci agama Buddha. Selain itu, banyak pula ditemukan prasasti tertua dalam bahasa Sanskerta dan Malayu kuno. Berita yang disampaikan prasasti-prasasti itu memberi petunjuk bahwa budaya Hindu menyebar di Kerajaan Sriwijaya pada abad ke-7 Masehi.

    Masuknya pengaruh unsur kebudayaan Hindu-Buddha dari India telah mengubah dan menambah khasanah budaya Indonesia dalam beberapa aspek kehidupan.

    1. Agama

    Ketika memasuki zaman sejarah, masyarakat di Indonesia telah menganut kepercayaan animisme dan dinamisme. Masyarakat mulai menerima sistem kepercayaan baru, yaitu agama Hindu-Buddha sejak berinteraksi dengan orang-orang India. Budaya baru tersebut membawa perubahan pada kehidupan keagamaan, misalnya dalam hal tata krama, upacara-upacara pemujaan, dan bentuk tempat peribadatan.

    2. Pemerintahan

    Sistem pemerintahan kerajaan dikenalkan oleh orang-orang India. Dalam sistem ini kelompok-kelompok kecil masyarakat bersatu dengan kepemilikan wilayah yang luas. Kepala suku yang terbaik dan terkuat berhak atas tampuk kekuasaan kerajaan. Oleh karena itu, lahir kerajaan-kerajaan, seperti Kutai, Tarumanegara, dan Sriwijaya.

    3. Arsitektur

    Salah satu tradisi megalitikum adalah bangunan punden berundak-undak. Tradisi tersebut berpadu dengan budaya India yang mengilhami pembuatan bangunan candi. Jika kita memperhatikan Candi Borobudur, akan terlihat bahwa bangunannya berbentuk limas yang berundak-undak. Hal ini menjadi bukti adanya paduan budaya India-Indonesia.

    4. Bahasa

    Kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia meninggalkan beberapa prasasti yang sebagian besar berhuruf Pallawa dan berbahasa Sanskerta. Dalam perkembangan selanjutnya bahkan hingga saat ini, bahasa Indonesia memperkaya diri dengan bahasa Sanskerta itu. Kalimat atau kata-kata bahasa Indonesia yang merupakan hasil serapan dari bahasa Sanskerta, yaitu Pancasila, Dasa Dharma, Kartika Eka Paksi, Parasamya Purnakarya Nugraha, dan sebagainya.

    5. Sastra

    Berkembangnya pengaruh India di Indonesia membawa kemajuan besar dalam bidang sastra. Karya sastra terkenal yang mereka bawa adalah kitab Ramayana dan Mahabharata. Adanya kitab-kitab itu memacu para pujangga Indonesia untuk menghasilkan karya sendiri. Karya-karya sastra yang muncul di Indonesia adalah:

    1. Arjunawiwaha, karya Mpu Kanwa,
    2. Sutasoma, karya Mpu Tantular, dan
    3. Negarakertagama, karya Mpu Prapanca.

    Agama Hindu

    Agama Hindu berkembang di India pada ± tahun 1500 SM. Sumber ajaran Hindu terdapat dalam kitab sucinya yaitu Weda. Kitab Weda terdiri atas 4 Samhita atau “himpunan” yaitu:

    1. Reg Weda, berisi syair puji-pujian kepada para dewa.
    2. Sama Weda, berisi nyanyian-nyanyian suci.
    3. Yajur Weda, berisi mantera-mantera untuk upacara keselamatan.
    4. Atharwa Weda, berisi doa-doa untuk penyembuhan penyakit.

    Di samping kitab Weda, umat Hindu juga memiliki kitab suci lainnya yaitu:

    1. Kitab Brahmana, berisi ajaran tentang hal-hal sesaji.
    2. Kitab Upanishad, berisi ajaran ketuhanan dan makna hidup.

    Agama Hindu menganut polytheisme (menyembah banyak dewa), diantaranya Trimurti atau “Kesatuan Tiga Dewa Tertinggi” yaitu:

    1. Dewa Brahmana, sebagai dewa pencipta.
    2. Dewa Wisnu, sebagai dewa pemelihara dan pelindung.
    3. Dewa Siwa, sebagai dewa perusak.

    Selain Dewa Trimurti, ada pula dewa yang banyak dipuja yaitu Dewa Indra pembawa hujan yang sangat penting untuk pertanian, serta Dewa Agni (api) yang berguna untuk memasak dan upacara-upacara keagamaan. Menurut agama Hindu masyarakat dibedakan menjadi 4 tingkatan atau kasta yang disebut Caturwarna yaitu:

    1. Kasta Brahmana, terdiri dari para pendeta.
    2. Kasta Ksatria, terdiri dari raja, keluarga raja, dan bangsawan.
    3. Kasta Waisya, terdiri dari para pedagang, dan buruh menengah.
    4. Kasta Sudra, terdiri dari para petani, buruh kecil, dan budak.

    Selain 4 kasta tersebut terdapat pula golongan pharia atau candala, yaitu orang di luar kasta yang telah melanggar aturan-aturan kasta.

    Orang-orang Hindu memilih tempat yang dianggap suci misalnya, Benares sebagai tempat bersemayamnya Dewa Siwa serta Sungai Gangga yang airnya dapat mensucikan dosa umat Hindu, sehingga bisa mencapai puncak nirwana.

    Agama Buddha

    Agama Buddha diajarkan oleh Sidharta Gautama di India pada tahun ± 531 SM. Ayahnya seorang raja bernama Sudhodana dan ibunya Dewi Maya. Buddha artinya orang yang telah sadar dan ingin melepaskan diri dari samsara.

    Kitab suci agama Buddha yaitu Tripittaka artinya “Tiga Keranjang” yang ditulis dengan bahasa Poli. Adapun yang dimaksud dengan Tiga Keranjang adalah:

    1. Winayapittaka : Berisi peraturan-peraturan dan hukum yang harus dijalankan oleh umat Buddha.
    2. Sutrantapittaka : Berisi wejangan-wejangan atau ajaran dari sang Buddha.
    3. Abhidarmapittaka : Berisi penjelasan tentang soal-soal keagamaan.

    Pemeluk Buddha wajib melaksanakan Tri Dharma atau “Tiga Kebaktian” yaitu:

    1. Buddha yaitu berbakti kepada Buddha.
    2. Dharma yaitu berbakti kepada ajaran-ajaran Buddha.
    3. Sangga yaitu berbakti kepada pemeluk-pemeluk Buddha.

    Disamping itu agar orang dapat mencapai nirwana harus mengikuti 8 (delapan) jalan kebenaran atau Astavidha yaitu:

    1. Pandangan yang benar.
    2. Niat yang benar.
    3. Perkataan yang benar.
    4. Perbuatan yang benar.
    5. Penghidupan yang benar.
    6. Usaha yang benar.
    7. Perhatian yang benar.
    8. Bersemedi yang benar.

    Karena munculnya berbagai penafsiran dari ajaran Buddha, akhirnya menumbuhkan dua aliran dalam agama Buddha yaitu:

    1. Buddha Hinayana, yaitu setiap orang dapat mencapai nirwana atas usahanya sendiri.
    2. Buddha Mahayana, yaitu orang dapat mencapai nirwana dengan usaha bersama dan saling membantu.

    Pemeluk Buddha juga memiliki tempat-tempat yang dianggap suci dan keramat yaitu:

    1. Kapilawastu, yaitu tempat lahirnya Sang Buddha.
    2. Bodh Gaya, yaitu tempat Sang Buddha bersemedi dan memperoleh Bodhi.
    3. Sarnath/ Benares, yaitu tempat Sang Buddha mengajarkan ajarannya pertama kali.
    4. Kusinagara, yaitu tempat wafatnya Sang Buddha.

      C.PERKEMBANGAN TRADISI Hindhu-Budha

      1. BAGAIMANAKAH SIKAP BANGSA INDONESIA TERHADAP KEBUDAYAAN DARI LUAR?

      2.SEBUTKAN PERWUJUDAN  AKULTURASI ANTARA KEBUDAYAAN HINDHU-BUDHA DENGAN KEBUDAYAAN INDONESIA DIBIDANG :

      A. SENI BANGUNAN

      B.SENI UKIR DAN SENI RUPA

      C.AKSARA DAN SENI SASTRA

      D.SISTEM PEMERINTAHAN

      E.SISTEM KALENDER

      F.SISTEM KEPERCAYAAN

      G.FILSAFAT

      BUKTI – BUKTI PROSES INTERAKSI DI BEBERAPA DAERAH DENGAN AGAMA HINDHU- AGAMA BUDHA

      1.KAPAN AGAMA BUDHA MASUK KE INDONESIA DAN  APA BUKTINYA?

      2.BERDASARKAN BUKTI KERAJAAN YANG ADA ( KERAJAAN KUTAI DAN tARUMA NEGARA) LEBIH DAHULU MANA MASUKNYA AGAMA hHINDHU DAN BUDHA? DAN APA BUKTINYA ?

      3.APA PENGERTIAN SINKRETISME?ALIRAN INI BERKEMBANG PADA ABAD BERAPA?

      4.SEBUTKAN ALIRAN DALAM AGAMA BUDHA?

      BAB ( 1 ) PENGARUH PERKEMBANGAN AGAMAA DAN KEBUDAYAAN HINDU – BUDHA DI iNDONESIA

      AGAMA HINDHU

      1Kapan agama dan kebudayaan hindhu  masuk ke Indonesia?

      2.Sebutkan beberapa perubahan yang terjadi bagi masyrakat indonesia setelah mengenal agama dan budaya Hindhu.

      3.sebutkan beberapa teori dan beberapa ahli yang berpendapat mengenai masuknya agama dan budaya Hindhu di Indonesia.

      4.Diantara teori tersebut teori apakah yang mendekati kebenaran .Jelaskan

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s